Saturday, 30 November 2013

Materi Sumber Hukum Islam

By Kpoper Media | At 21:32 | Label : | 0 Comments

sumber hkm islam Agama islam adalah agama yang diturunkan oleh allah swt dan disampaikan langsung kepada manusia dengan perantara nabi Muhammad saw. Dalam memahami ajaran-ajaran allah tersebut kita harus mempunyai dasar atau landasan hokum yang kuat. Untuk itu kita sebagai manusia yang beriman wajib untuk mempelajari hokum-hukum agama islam langsung dari sumber yang dapat di percaya yaitu al quran dan hadits. Dalam sebuah hadits rasulullah saw bersabda “kalau ingin mengamalkan sesuatu maka harus tahu ilmunya” dalam alquran terdapat banyak petunjuk dan aturan-aturan yang harus di ikuti oleh umat islam

Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti wadah ditemukannya dan ditimbanya norma hukum. Sumber hukum Islam yang utama adalah Al Qur’an dan sunah. Selain menggunakan kata sumber, juga digunakan kata dalil yang berarti keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran. Selain itu, ijtihad, ijma’, dan qiyas juga merupakan sumber hukum karena sebagai alat bantu untuk sampai kepada hukum-hukum yang dikandung oleh Al Qur’an dan sunah Rasulullah SAW
Secara sederhana hukum adalah “seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang diakui sekelompok masyarakat; disusun orang-orang yang diberi wewenang oleh masyarakat itu; berlaku mengikat, untuk seluruh anggotanya”.

Al Qur’an berisi wahyu-wahyu dari Allah SWT yang diturunkan secara berangsur-angsur (mutawattir) kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Al Qur’an diawali dengan surat Al Fatihah, diakhiri dengan surat An Nas. Membaca Al Qur’an merupakan ibadah.
Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim berkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu menngikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangnannya
Al Qur’an memuat berbagai pedoman dasar bagi kehidupan umat manusia.

1. Tuntunan yang berkaitan dengan keimanan/akidah, yaitu ketetapan yantg berkaitan dengan iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar

2. Tuntunan yang berkaitan dengan akhlak, yaitu ajaran agar orang muslim memilki budi pekerti yang baik serta etika kehidupan.

3. Tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa, zakat dan haji.

4. Tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam masyarakat

Isi kandungan Al Qur’an

Secara ringkas kandungan atau pokok-pokok isi alquran antara lain sebagai berikut:

1. Akidah

2. Ibadah dan muamalah

3. Akhlak

4. Hokum

5. Sejarah

6. Dasar ilmu pengetahuan

Isi kandungan Al Qur’an dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.

1. Segi Kuantitas

Al Quran terdiri dari 30 Juz, 114 surat, 6.236 ayat, 323.015 huruf dan 77.439 kosa kata

2. Segi Kualitas

Isi pokok Al Qur’an (ditinjau dari segi hukum) terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:

1. Hukum yang berkaitan dengan ibadah: hukum yang mengatur hubungan rohaniyah dengan Allah SWT dan hal – hal lain yang berkaitan dengan keimanan. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam

2. Hukum yang berhubungan dengan Amaliyah yang mengatur hubungan dengan Allah, dengan sesama dan alam sekitar. Hukum ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syariat. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fiqih

3. Hukum yang berkaitan dngan akhlak. Yakni tuntutan agar setiap muslim memiliki sifat – sifat mulia sekaligus menjauhi perilaku – perilaku tercela.

Bila ditinjau dari Hukum Syara terbagi menjadi dua kelompok:

1. Hukum yang berkaitan dengan amal ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, nadzar, sumpah dan sebagainya yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhannya.

2. Hukum yang berkaitan dengan amal kemasyarakatan (muamalah) seperti perjanjian perjanjian, hukuman (pidana), perekonomian, pendidikan, perkawinan dan lain sebagainya.

Hukum yang berkaitan dengan muamalah meliputi:

1. Hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam berkeluarga, yaitu perkawinan dan warisan

2. Hukum yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu yang berhubungan dengan jual beli (perdagangan), gadai-menggadai, perkongsian dan lain-lain. Maksud utamanya agar hak setiap orang dapat terpelihara dengan tertib

3. Hukum yang berkaitan dengan gugat menggugat, yaitu yang berhubungan dengan keputusan, persaksian dan sumpah

4. Hukum yang berkaitan dengan jinayat, yaitu yang berhubungan dengan penetapan hukum atas pelanggaran pembunuhan dan kriminalitas

5. Hukum yang berkaitan dengan hubungan antar agama, yaitu hubungan antar kekuasan Islam dengan non-Islam sehingga tercpai kedamaian dan kesejahteraan.

6. Hukum yang berkaitan dengan batasan pemilikan harta benda, seperti zakat, infaq dan sedekah.

Ketetapan hukum yang terdapat dalam Al Qur’an ada yang rinci dan ada yang garis besar. Ayat ahkam (hukum) yang rinci umumnya berhubungan dengan masalah ibadah, kekeluargaan dan warisan. Pada bagian ini banyak hukum bersifat ta’abud (dalam rangka ibadah kepada Allah SWT), namun tidak tertutup peluang bagi akal untuk memahaminya sesuai dengan perubahan zaman. Sedangkan ayat ahkam (hukum) yang bersifat garis besar, umumnya berkaitan dengan muamalah, seperti perekonomian, ketata negaraan, undang-undang sebagainya. Ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan masalah ini hanya berupa kaidah-kaidah umum, bahkan seringkali hanya disebutkan nilai-nilainya, agar dapat ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Selain ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan hukum, ada juga yang berkaitan dengan masalah dakwah, nasehat, tamsil, kisah sejarah dan lain-lainnya. Ayat yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut jumlahnya banyak sekali.

1. Hadits

Hadits merupakan segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (taqrir). Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an. Allah SWT telah mewajibkan untuk menaati hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan yang disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam haditsnya. “ … Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, …” (QS Al Hasyr : 7)

Perintah meneladani Rasulullah SAW ini disebabkan seluruh perilaku Nabi Muhammad SAW mengandung nilai-nilai luhur dan merupakan cerminan akhlak mulia. Apabila seseorang bisa meneladaninya maka akan mulia pula sikap dan perbutannya. Hal tersebut dikarenakan Rasulullah SAW memilki akhlak dan budi pekerti yang sangat mulia. Hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua, juga dinyatakan oleh Rasulullah SAW:

Aku tinggalkan dua perkara untukmu seklian, kalian tidak akan sesat selama kalian berpegangan kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah rasulnya”. (HR Imam Malik)

Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua memilki kedua fungsi sebagai berikut.

1) Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al Qur’an, sehingga kedunya (Al Qur’an dan Hadits) menjadi sumber hukum untuk satu hal yang sama. Misalnya Allah SWT didalam Al Qur’an menegaskan untuk menjauhi perkataan dusta “…Jauhilah perbuatan dusta…” (QS Al Hajj : 30)

Ayat diatas juga diperkuat oleh hadits-hadits yang juga berisi larangan berdusta

2) Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang masih bersifat umum. Misalnya, ayat Al Qur’an yang memerintahkan shalat, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji, semuanya bersifat garis besar. Seperti tidak menjelaskan jumlah rakaat dan bagaimana cara melaksanakan shalat, tidak merinci batas mulai wajib zakat, tidak memarkan cara-cara melaksanakan haji. Rincian semua itu telah dijelaskan oelh rasullah SAW dalam haditsnya. Contoh lain, dalam Al Qur’an Allah SWT mengharamkan bangkai, darah dan daging babi. Firman Allah sebagai “Diharamkan bagimu bangkai, darah,dan daging babi…” (QS Al Maidah : 3)

Dalam ayat tersebut, bangkai itu haram dimakan, tetap tidak dikecualikan bangkai mana yang boleh dimakan. Kemudian datanglah hadits menjelaskan bahwa ada bangkai yang boleh dimakan, yakni bangkai ikan dan belalang. Sabda Rasulullah SAW:
اُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَ دَمَانِ, فَامَّا الْمَيْتَتَانِ : الْحُوْتُ وَالْجَرَادُ, وَاَمَّا
الدَّمَانِ : فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالِ ( رواه ابن الماجه و الحاكم)
Artinya: “Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua macam bangkai adalah ikan dan belalalng, sedangkan dua macam darah adalah hati dan limpa…” (HR Ibnu Majjah)

3) Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati dalam Al Qur’an. Misalnya, cara menyucikan bejana yang dijilat anjing, dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
طُهُوْرُ اِنَاءِ اَحَدِكُمْ اِذَا وَلِغَ فِيْهِ الْكَلْبُ اَنْ يُغْسِلَ سَبْعَ مَرَّاتٍ اَوْلَهِنَّ بِالتُّرَابِ ( رواه مسلم و هحمد و هبو داود و البيهقى)

Artinya: “Mennyucikan bejanamu yang dijilat anjing adlah dengan cara membasuh sebanyak tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Baihaqi)

Hadits menurut sifatnya mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

1. Hadits Shohih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat, dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshohehan suatu hadits

2. Hadits Hasan, adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya (hafalannya), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat dan kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang makbul biasanya dibuat hujjah untuk sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau tidak terlalu penting

3. Hadits Dhoif, adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih syarat-syarat hadits shohih atau hadits hasan. Hadits dhoif banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak dipenuhi

Adapun syarat-syarat suatu hadits dikatakan hadits yang shohih, yaitu:

1) Rawinya bersifat adil

2) Sempurna ingatan

3) Sanadnya tidak terputus

4) Hadits itu tidak berilat, dan

5) Hadits itu tidak janggal

2. Ijtihad

Ijtihad ialah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah yang tidak ada ketetapannya, baik dalam Al Qur’an maupun Hadits, dengan menggunkan akal pikiran yang sehat dan jernih, serta berpedoman kepada cara-cara menetapkan hukum-hukumyang telah ditentukan. Hasil ijtihad dapat dijadikan sumber hukum yang ketiga. Hasil ini berdasarkan dialog nabi Muhammad SAW dengan sahabat yang bernama muadz bin jabal, ketika Muadz diutus ke negeri Yaman. Nabi SAW, bertanya kepada Muadz,” bagaimana kamu akan menetapkan hukum kalau dihadapkan pada satu masalah yang memerlukan penetapan hukum?”, muadz menjawab, “Saya akan menetapkan hukumdengan Al Qur’an, Rasul bertanya lagi, “Seandainya tidak ditemukan ketetapannya di dalam Al Qur’an?” Muadz menjawab, “Saya akan tetapkan dengan Hadits”. Rasul bertanya lagi, “seandainya tidak engkau temukan ketetapannya dalam Al Qur’an dan Hadits”, Muadz menjawab” saya akan berijtihad dengan pendapat saya sendiri” kemudian, Rasulullah SAW menepuk-nepukkan bahu Muadz bi Jabal, tanda setuju. Kisah mengenai Muadz ini menajdikan ijtihad sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam setelah Al Qur’an dan hadits.
Untuk melakukan ijtihad (mujtahid) harus memenuhi bebrapa syarat berikut ini:

1. mengetahui isi Al Qur’an dan Hadits, terutama yang bersangkutan dengan hukum

2. memahami bahasa arab dengan segala kelengkapannya untuk menafsirkan Al Qur’an dan hadits

3. mengetahui soal-soal ijma

4. menguasai ilmu ushul fiqih dan kaidah-kaidah fiqih yang luas.

Islam menghargai ijtihad, meskipun hasilnya salah, selama ijtihad itu dilakukan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW bersabda:
اِذَا حَكَمَ الْحَاكِمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ اَصَابَ فَلَهُ اَجَرَانِ وَ اِذَا حَكَمَ وَاجْتَهَدَ ثُمَّ اَخْطَأَ فَلَهُ اَجْرٌ ( رواه البخارى و مسلم )
Artinya: “Apabila seorang hakim dalam memutuskan perkara melakukan ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala dan apabila seorang hakim dalam memutuskan perkara ia melakukan ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya salah, maka ia memperoleh satu pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Islam bukan saja membolehkan adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad, tetapi juga menegaskan bahwa adanya beda pendapat tersebut justru akan membawa rahmat dan kelapangan bagi umat manusia. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:
…اِخْتِلاَ فِ اُمَّتِيْ رَحْمَةٌ (رواه نصر المقدس)
Artinya: ”… Perbedaan pendapat di antara umatku akan membawa rahmat” (HR Nashr Al muqaddas)

Dalam berijtihad seseorang dapat menmpuhnya dengan cara ijma’ dan qiyas. Ijma’ adalah kese[akatan dari seluruh imam mujtahid dan orang-orang muslim pada suatu masa dari beberapa masa setelah wafat Rasulullah SAW. Berpegang kepada hasil ijma’ diperbolehkan, bahkan menjadi keharusan. Dalilnya dipahami dari firman Allah SWT:

“Hai orang-oran yang beriman, taatilah Allah dan rasuknya dan ulil amri diantara kamu….” (QS An Nisa : 59)

Dalam ayat ini ada petunjuk untuk taat kepada orang yang mempunyai kekuasaan dibidangnya, seperti pemimpin pemerintahan, termasuk imam mujtahid. Dengan demikian, ijma’ ulam dapat menjadi salah satu sumber hukum Islam. Contoh ijam’ ialah mengumpulkan tulisan wahyu yang berserakan, kemudian membukukannya menjadi mushaf Al Qur’an, seperti sekarang ini

Qiyas (analogi) adalah menghubungkan suatu kejadian yang tidak ada hukumnya dengan kejadian lain yang sudah ada hukumnya karena antara keduanya terdapat persamaan illat atau sebab-sebabnya. Contohnya, mengharamkan minuman keras, seperti bir dan wiski. Haramnya minuman keras ini diqiyaskan dengan khamar yang disebut dalam Al Qur’an karena antara keduanya terdapat persamaan illat (alasan), yaitu sama-sama memabukkan. Jadi, walaupun bir tidak ada ketetapan hukmnya dalam Al Qur’an atau hadits tetap diharamkan karena mengandung persamaan dengan khamar yang ada hukumnya dalam Al Qur’an.
Sebelum mengambil keputusan dengan menggunakan qiyas maka ada baiknya mengetahui Rukun Qiyas, yaitu:

1. Dasar (dalil)

2. Masalah yang akan diqiyaskan

3. Hukum yang terdapat pada dalil

4. Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan

Bentuk Ijtihad yang lain

- Istihsan/Istislah, yaitu mentapkan hukum suatu perbuatan yang tidak dijelaskan secara kongret dalam Al Qur’an dan hadits yang didasarkan atas kepentingan umum atau kemashlahatan umum atau unutk kepentingan keadilan

- Istishab, yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan telah ditetapkan suatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan dari hukum tersebut

- Istidlal, yaitu menetapkan suatu hukum perbuatan yang tidak disebutkan secara kongkret dalam Al Qur’an dan hadits dengan didasarkan karena telah menjadi adat istiadat atau kebiasaan masyarakat setempat. Termasuk dalam hal ini ialah hukum-hukum agama yang diwahyukan sebelum Islam. Adat istiadat dan hukum agama sebelum Islam bisa diakui atau dibenarkan oleh Islam asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Al Qur’an dan hadits

- Maslahah mursalah, ialah maslahah yang sesuai dengan maksud syarak yang tidak diperoeh dari pengajaran dalil secara langsung dan jelas dari maslahah itu. Contohnya seperti mengharuskan seorang tukang mengganti atau membayar kerugian pada pemilik barang, karena kerusakan diluar kesepakatan yang telah ditetapkan.

- Al ‘Urf, ialah urursan yang disepakati oelh segolongan manusia dalam perkembangan hidupnya

- Zara’i, ialah pekerjaan-pekerjaan yang menjadi jalan untuk mencapai mashlahah atau untuk menghilangkan mudarat.

Read Other

Materi Peranan Manusia Sebagai Khalifah Di Bumi

By Kpoper Media | At 21:28 | Label : | 0 Comments

Surat Al Baqarah : 30

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.” (QS Al Baqarah : 30)

peranan manusia sg khlaifah 1. Kandungan ayat

Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi kalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu semuanya maka sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.

a. Pengertian khalifah

Khalifah mengandug makna berikut:

1) Kedudukan, jabatan ataupun sesuatu fungsi

2) Pengganti atau penguasa

3) Pengganti allah swt, di bumi atau penguasa bumi

Manusia sebagai khalifah ialah menjadikan manusia berkuasa di bumi. Ayat ini menunjukkan bahwa khalifah adalah manusia yang merupakan makhluk allah swt yang sempurna dan memiliki potensi dintara hawa nafsu, pendengaran, penglihatan, hati dan lain-lain

b. Peranan khalifah

1) Menjadi pemimpin baik bagi orang lain maupun diri mereka sendiri dalam upaya mencari ridho allah swt

2) Menyejahterakan dan memakmurkan bumi, maksudnya manusia di jadikan penghuni bumi untuk menguasai dan menyejahterakan bumi

3) Upaya antisipasi terhadap rintangan pada umat manusia, karena didalam menjalankan tugas iblis dan setan tidak henti-hentinya untuk menggoda agar manusia sesat

c. Perilaku Yng menunjukkan surat al-baqarah

Manusia sebagai khalifah di bumi artinya manusia sebagai pemimpin bumi. Tugas ini sangat berat karena itu manusia harus mempunyai kemampuan mengelola alam semesta sesuai amanah yang disampaikan allah, kepemimpinan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat, dengan peran manusia sebagai pemimpin di bumi sudah seharusnya kita mensyukuri karunia dan nikmatnya terutama nikmat alam semesta

Kesimpulan kandungan Surat Al Baqarah : 30, diantaranya:

1. Allah memberitahu kepada malaikat bahwa Allah akan menciptakan khalifah (wakil Allah) di bumi

2. Allah memilih manusia menjadi khalifah di muka bumi

3. malaikat menyangsikan kemampuan manusia dalam mengemban tugas sebagai manusia. Menurut pandangan malaikat, manusia suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah

4. Malaikat beranggapan bahwa yang pantas menjadi khalifah di bumi adalah dirinya. Malaikat merasa selalu bertasbih, bertauhid dan menyucikan Allah

5. Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat

Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al ‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah).

a) Memakmurkan Bumi

Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT. Manusia harus mengksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.

b) Memelihara Bumi

Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebiasaan jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam. Oleh karena itu, hal semacam itu perlu dihindari.

Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa (pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud adalah agama (Islam).

Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk memelihara bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi – nabi sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti yang Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4 yang berbunyi : Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar“. (QS Al Isra : 4)

Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firmannya dalam surat Al Qashash ayat 77

Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS AL Qashash : 7)

B. TUGAS MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK

Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun. Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.

1. Ibadah muhdah (murni),

yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

2. Ibadah ‘ammah (umum)

yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT

Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah k=jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedankan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)

Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.

Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.

Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.

Read Other

Materi Peradaban Bangsa Arab Sebelum Lahirnya Peradaban Islam

By Kpoper Media | At 21:25 | Label : | 0 Comments

peradaban bangsa arab Bangsa arab sebelum lahirnya islam mempunyai peradaban jahiliyah, hal ini disebabkan bangsa arab pada waktu itu mempunyai kepercayaan yang bermacam-macam, ada yang menyembah binatang, menyembah kayu, menyembah batu adapula yang menyembah jin, roh dan sebagainya. Seperti kabilah kaum ad yang menyembah benda mati yang dianggap sakti. Kaum tsamud juga penyembah berhala dan adapula yang meganut ajaran nabi Ibrahim dan ismail yaitu allah serta mengerjakan ibadah haji tetapi jumlah tersebut masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang yang menyembah berhala

Sebelum islam, bangsa arab ada juga yang memeluk agama nasrani dan yahudi, namun tidak mampu menrubah kebiasaan bangsa arab yang sudah mendarah daging yaitu menymbah berhala karena agam tersebut telah bercampur dengan bid’ah dan khufarat. Ditanah arab sukuisme merajalela, orang lebih membela kesukuan daripada kemanusiaan

Jauh sebelum kedatangan nabi Muhammad saw, pada dasarnya bangsa arab di sekitar jazirah arab sudah mengenal keesaan allah swt. Artinya sudah mengenal agama yang diturunkan oleh allah swt, hal itu dikarenakan zaman sebelumnya allah swt telah mengutus beberapa nabi dan rasul untuk membimbing agar menyembah allah swt dan tidak menyekutukannya. Banyak dikisahkan dalam al quranbahwa bangsa arab yang tinggal di jazirah arabtelah kedatangan para nabi dan rasul antara lain nabi hud as, nabi Ibrahim as, dan lain-lain. para nabi dan rasul tersebut diutus untuk menyampaikan ajaran tauhid yaitu ajaran menyembah allah yang esa

B. Lahirnya Peradaban Islam

1. Misi nabi Muhammad saw

Masyarakat mekah pada awal kenabian Muhammad saw. Dikenal dengan masyarakat jahiliyah yakni masyarakat yang hidup pada masa kegelapan terutama berkaitan dengan akhlak dan moral. Masyarakat jahiliyah tidak menjadikan allah swt sebagai tuhan namun berhalalah yang mereka sembah sebagai tuhan

Kebiasaan buruk lainnya dalam masyarakat jahiliyah adalah berkembangnya tindak kejahatan, perjudian, mabuk-mabukan, pertikaian antar sukudan lain-lain. tatanan kehidupan bermasyarakat tidak berjalan, yang berlaku adalah hokum rimba, siapa yang kuat dial ah yang berkuasa.

Keadaan masyarakat yang seperti in telah berjalan cukup lama, yakni bermula dari kebiasaan masyarakat yang sudah tidak mau lagi menjadikan ajaran para nabi sebagai pedoman hidupnya. Dalam situasi yang serba buruk semacam inilah allah swt mengutus nabi Muhammad saw untuk menyampaikan ajaran islam

2. Dasar-dasar Kepercayaan Islam

Pada awal dakwahnya, nabi Muhammad saw menyerukan dasar-dasar kepercayaan islam kepada penduduk mekah. Seruan itu adalah sebagai berikut:

a. Mengesakan allah swt. Sebagai zat yang maha kuasa. Nabi Muhammad saw menyerukan agar penduduk mekah meninggalkan pemujaan berhala. Disamping itu beliau juga mengajakuntuk menyembah allah swt.

b. Mempercayai kenabian dan kerasulannya, ajaran pokok kedua yang beliau sampaikan adalah member keyakinan bahwa dirinya adalah nabi dan rasul utusan allah swt yang telah menerima wahyu

c. Mempercayai adanya hari kiamat. Ajaran ketiga yang beliau dakwahkan adalah mengenai hari kiamat. Sementara itu, akhirat adalah tempat memeprhituungkan kebaikan dan kejahatan yang telah dia perbuatan semasa hidupnya

d. Pertanggung jawaban atas amal perbuatan. Beliau menelaskan bahwa tanggung jawab manusia terhadap amal perbuatan tidak dapat di limpahkan kepada orang lain. manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri

e. Akhlakul karimah, beliau berpesan perlunya membina akhlak yang baik dan menghindari akhlak tercela, hidup secara sederhana dan tidak suka berfoya-foya

f. Persamaan derajat sesama manusia. Beliau mengajak manusia untuk menghargai sesame manusia karena derajat menusia di sisi allah swt itu sama

3. Langkah awal nabi Muhammad saw

Nabi Muhammad saw mengajak keluarga terdekat dan sahabat-sahabatnyauntuk bergabung dalam islam. Pokok ajaran yang dibawa nabi Muhammad saw dalam menyampaikan risalah islam kepada penduduk mekah adalah sebagai berikut

a. Mengajarkan manusia untuk menyembah hanya kepada allah swt, menyuruh meninggalkan kepercayaan nenek moyang yaitu penyembahan terhadap berhala

b. Mengajarkan keimanan yaitu tentang terjadinya hari kiamat dan pembalasan amal berdasarkan keadilan allah swt

c. Mengajarkan akhlak yang terpuji, misalnya tolong menolong sesama manusia serta melarang manusia berbuat jahat dan tercela

d. Mengerjakan ibadah misalnya mengerjakan shalat

e. Mengajarkan persamaan derajat semua manusia, manusia yang paling mulia disisi allah swt adalah manusia yang paling bertaqwa

Ketika nabi Muhammad saw menyampaikan dakwahnya kepada penduduk mekah sebagian dari mereka ada yang langsung menerima dan ada yang langsug menolak. Namun beliau terus berdakwah dan mengajak setiap orang untuk menerima ajaran islam yang membawa keselamatan dunia dan akhirat

4. Bagaimana Reaksi masyarakat Mekah Terhadap Kedatangan Islam

Pada tanggal 17 ramadhan tahun 40 kenabian, nabi Muhammad saw pertama kali menerima wahyu dari allah swt. Selang beberapa waktu beliau menerima wahyu yang kedua yakni surat al muddatstsir ayat 1-7 setelah mendapatkan wahyu yang kedua nabi Muhammad saw, melakukan dakwah terang-terangan ditengah masyarakat jahiliyah tetapi dakwah rasulullah tersebut mendapat reaksi dan tantangan yang cukup berat antara lain sebagai berikut :

a. Hinaan, cercaan dan ancaman dari para pemuka kafir quraisy

Para tokoh kafir quraisy menghasut masyarakat untuk tidak mengikuti seruan nabi Muhammad saw. Hasutan dan ancaman terus dilakukan oleh orang-orang kafir bahkan sampai pada ancaman fisik

b. Ancaman pembunuhan

Reaksi orang kafir quraisy semakin keras terhadap dakwah nabi Muhammad saw. Ancaman orang-orang kafir tersebut tidak hanya sekedar anaman tetapi benar-benar dilaksanakan ketika itu bersamaan rencana nabi untuk hijrah ke madinah. Namu atas perlindungan allah swt, nabi Muhammad saw bisa selamat dan usaha dakwah terus dijalankan

c. Mendapat dukungan dari keluarga dekat

Rasulullah mendapat dukungan penuh dari keluarganya dan beberapa sahabatnya. Pamanya seslalu menjaganya meskipun ia sendiri sampai akhir hayat tidak memeluk ajaran islam

Reaksi masyarakat mekkah pada waktu itu secara umum tidak baik. Mereka cenderung menghalang-halangi bahkan berusaha menggagalkan usaha dakwah yang dilakukan nabi Muhammad saw. Masyarakat mekah pada waktu itu member reaksi tidak baik karena memiliki anggapan bahwa ajaran yang diajarkan nabi Muhammad saw bertentangan dengan kepercayaan mereka yang mereka lakukan sehari-hari

C. Kehidupan Masyarakat Mekah

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Arab sangat ditentukan oleh kondisi dan letak geografis negara-negara Arab itu sendiri. Bagi masyarakat pedalaman, yaitu masyarakat Badawi, kehidupan sosial ekonomi mereka biasanya dilakukan melalui sektor peternakan, terutama bagi mereka yang mendiami daerah subur atau oase. Tetapi bagi masyarakat perkotaan, kehidupan sosial ekonomi mereka sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam perdagangan.

Di Kota Makkah terdapat pusat perdagangan yaitu pasar Ukaz yang dibuka pada bulan-bulan tertentu seperti bulan Zulaqaidah, Zulhijjah, dan Muharram.

Dalam bidang politik, masyarakat jahiliyah tidak memiliki sistem pemerintahan yang mapan. Mereka mempunyai pemimpin yang disebut Syeikh atau amir yang mengurusi perseolan mereka dalam masalah perang, pembagian harta dan pertempuran tertentu. Di luar itu syaike tidak berhak atau tidak berkuasa mengatur anggota kabilahnya. Disamping itu bangsa arab sebelum islam telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, diantaranya astronomi (ilmu perbintangan) yang ditemukan oleh orang-orang Babilonia, ilmu Metrologi atau ilmu iklim, Astrologi (ilmu perbintangan). Pada awalnya ilmu ini dipergunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya suatu peristiwa seprti perang, damai dan sebagainya. Ilmu tenun banyak disukai masyarakat Arab. Ilmu ini berasal dari Kaldam yang bermigrasi ke tanah Arab. Selai itu bangsa Arab pula telah memiliki pengetahuan tentang cara pengobatan penyakit yang disebut al-Thibb. Ilmu berasal dari orang-orang Kaldam yang dikembangkan oleh masyarakat Arab. 

D. Peradaban Daerah Sekitar Semenanjung Arabia

Jazirah Arab atau semenanjung Arabia terdiri dari dua bagian yaitu tengah dan tepi. Bagian tengan jazirah Arabia terdiri dari tanah pegunungan yang tandus, oleh sebab itu banyak penduduk yang hidupnya tidak menetap. Mereka biasa berpindah dari satu daerah kedaerah yang lain, hanya mencari lahan subur untuk ternak mereka. Suku bangsa ini disebut suku Badwi, atau orang-orang pedalaman yang hidup bebas yang termasuk daerha ini adalah daerah Nejd, dan Ahqaf.

Penduduk padang pasir ini mempunyai sifat pemberani, sifat pembrani ini dipergunakan untuk memerangi suku lemah sebagai alat untuk mempertahankan daerah subur yang dikuasainya. Pertempuran ini berlangsung lama sehingga mereka tidak mengembangkan budayanya.

Pada bagian tepi jazirah Arabia merupakan tanah yang subur karena banyak turun hujan dan penduduknya bukan mereka yang selalu berpindah-pindah , oleh karena itu mereka telah mampu mengembangkan kebudayaan, diantara hasil peradaban yang mereka kembangkan adalah mendirikan kerajaan-kerajaan seperti kerajaan Saba yang dipimpin oleh Ratu Bilgis, kerajaan Himyar, kerajaan Manaadfirah (Mesopotania) dan kerajaan Ghassaniyah.

Daerah yang termasuk kedalam wilayah bagian tepi adalah Yaman, Hijaz, Omam dan Handramaut. Kota Mekkah juga merupakan kota yang telah maju yang terdapat di Hijaz, sehingga kota itu disebut dengan istilah “Ummul Qura” atau ibu negeri tercantum dalam Q.S An’Am ayat 92.

Penduduk Mekkah pada umumnya memiliki tradisi perdagangan. Mereka sering melakukan perjalanan dagang ke luar Mekkah seperti ke Syam, Habsyi, Persia, dan sebagainya.

Rakyat Mekkah mempunyai kebiasaan melihat pergelaran seni puisi yang digelarkan di pasar-pasar, seprti pasar Ukaz dan Zulmajaa. Bangsa Arab mempunyai kelemahan dalam bidang akhlak atau moral, sehingga mereka dijuluki sebagai bangsa “Arab jahiliyah”

Read Other

Materi Pembagian Hukum Islam

By Kpoper Media | At 21:21 | Label : | 0 Comments

Hukum dalam Islam ada lima yaitu:

pembagian hukum islam 1. Wajib, yaitu perintah yang harus dikerjakan. Jika perintah tersebut dipatuhi (dikerjakan), maka yang mebgerjakannya akan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan maka ia akan berdosa

2. Sunah, yaitu anjuran. Jika dikerjakan dapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak berdosa

3. Haram, yaitu larangan keras. Kalau dikerjakan berdosa jika tidak dikerjakan atau ditinggalkan mendapat pahala, sebagaiman dijelaskan oleh nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya yang artinya:
Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya kamu menjadi orang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada tetanggamu niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada hal-hal yang kamu cintai bagi dirimu sendiri niscaya kamu tergolong muslim, dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa itu mematikan hati. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

4. Makruh, yaitu larangan yang tidak keras. Kalau dilanggar tidak dihukum (tidak berdosa), dan jika ditinggalkan diberi pahala

5. Mubah, yaitu sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan. Kalau dikerjakan tidak berdosa, begitu juga kalau ditinggalkan.

Dalil fiqih adalah Al Qur’an, hadits, ijma’ mujtahidin dan qiyas. Sebagian ulama menambahkan yaitu istihsan, istidlal, ‘urf dan istishab.

Hukum-hukum itu ditinjau dari pengambilannya terdiri atas empat macam.

1. Hukum yang diambil dari nash yang tegas, yakni adanya dan maksudnya menunjukkan kepada hukum itu Hukum seperti ini tetap, tidak berubah dan wajib dijalankan oleh seluruh kaum muslim, tidak seorangpun berhak membantahnya. Seperti wajib shalat lima waktu, zakat, puasa, haji dan syarat syah jual beli dengan rela. Imam syafi’ie berpendapat apabila ada ketentuan hukum dari Allah SWT, pada suatu kejadian, setiap muslim wajib mengikutinya.

2. Hukum yang diambil dari nash yang tidak yakin maksudnya terhadap hukum-hukum itu. Dalam hal seperti ini terbukalah jalan mujtahid untuk berijtihad dalam batas memahami nas itu. Para mujtahid boleh mewujudkan hukum atau menguatkan salah satu hukum dengan ijtihadnya. Umpamanya boleh atau tidakkah khiar majelis bagi dua orang yang berjual beli, dalam memahami hadits:

اَلْبَيْعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقاً

Dua orang yang jual beli boleh memilih antara meneruskan jual beli atau tidak selama keduanya belum berpisah. Kata “berpisah” yang dimaksud dalam hadits ini mungkin berpisah badan atau pembicaraan, mungkin pula ijab dan kabul. Sperti wajib menyapu semua kepala atau sebagian saja ketika wudhu’, dalam memahami ayat:

Artinya: “Dan sapulah kepalamu” (QS Al Maidah : 6)
Juga dalam memahami hadits tidak halal binatang yang disembelih karena semata-mata tidak membaca basmalah.

مَا اَنْهَرَ الدَّ مَ وَ ذُ كِرَ اِسْمَ اللهِ عَلَيْهِ

Alat apapun yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan padanya nama Allah.

1. Hukum yang tidak ada nas, baik secara qa’i (pasti) maupun zanni (dugaan), tetapi pada suatu masa telah sepakat (ijma’) mujtahidin atas hukum-hukumnya
Seperti bagian kakek seperenam, dan batalnya perkawinan seorang muslimah dengan laki-laki non muslim. Di sini tidak ada jalan untuk ijtihad, bahkan setiap muslim wajib mengakui untuk menjalankannya. Karena hukum yang telah disepakati oleh mujtahdidin itu adalah hukum untuk seluruh umat, dan umat itu menurut Rasulullah SAW tidak akan sepakat atas sesuatu yang sesat. Mujtahidin merupakan ulil amri dalam mempertimbangkan, sedangkan Allah SWT menyuruh hambanya menaati ulil amri. Sungguhpun begitu, kita wajib betul-betul mengetahui bahwa pada huku itu telah terjadi ijma’ (sepakat) ulama mujtahidin. Bukan hanya semata-mata hanyan didasarkan pada sangkaan yang tidak berdasarkan penelitian.

2. Hukum yang tidak ada dari nas, baik qat’i ataupun zanni, dan tidak pula ada kesepakatan mujtahidin atas hukum itu. Seperti yang banyak terdapat dalam kitab-kitab fiqih mazhab. Hukum seperti ini adalah hasil pendapat seorang mujtahid. Pendapat menurut cara yang sesuai denngan akal pikirannya dan keadaan lingkungannya masing-masing diwaktu terjadinya peristiwa itu. Hukum-hukum seperti itu tidak tetap, mungkin berubah dengan berubahnya keadaan atau tinjauannya masing-masing. Maka mujtahid dimasa kini atau sesduahnya berhak membantah serta menetapkan hukum yang lain. Sebagaimana mujtahid pertama telah memberi (menetapkan) hukum itu sebelumnya. Ia pun dapat pula mengubah hukum itu dengan pendapatnya yang berbeda dengan tinjauan yang lain, setelah diselidiki dan diteliti kembali pada pokok-pokok pertimbangannya. Hasil ijtihad seperti ini tidak wajib dijalankan oleh seluruh muslim. Hanya wajib bagi mujtahid itu sendiri dan bagi orang-orang yang meminta fatwa kepadanya, selama pendapat itu belum diubahnya.

Read Other

Materi Keikhlasan Dalam Beribadah

By Kpoper Media | At 21:18 | Label : | 1 Comments

ikhlas dlm bribdh Manusia diciptakan oleh allah swt untuk beribadah dan menyembah kepada allah swt. Dalam menjalankan ibadah haruslah secara ikhlas karena allah swt. Ikhlas akan membantu kita untuk beribadah dengan tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak melakukannya dengan sesuatu tekanan atau keterpaksaaan. Dengan terbiasa ikhlas dalam beribadah akan membuat kita senantiasa ikhlas menghadapi ujian atau cobaan dari allah dalam kehidupan sehari-hari

Kata ikhlas secara secara harfiah berarti murni, suci, atau bersih. Konteks ikhlas ini berkaitan dengan niat. Niat adalah dorongan dalam hati manusia untuk melaksanakan amal perbuatan tertentu. Dalam mengamalkan ajaran agama Islam hendaknya dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah swt., artinya dengan kesadaran semata-mata hanya menaati perintah-Nya dan untuk memperoleh ridho-Nya.

1. Menjelaskan isi kandungan Q.S Al-An’am 6:162-163 dan Q.S Al-Bayyinah 98:5

a. Q.S. Al-An’am 6:162-163

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٦٢) لَا شَرِيكَ لَهُ ۥ‌ۖ وَبِذَٲلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ (١٦٣)

Artinya: Katakanlah ( Muhammad ), “ sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya,

dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri ( muslim)”

Kandungan surat Al-An’am ayat 162-163, antara lain:

a. semua aktivitas kehidupan, baik berupa ibadah khusus seperti shalat, zakat, puasa dan ibadah umum seperti muamalah, bahkan kehidupan dan kematian hendaknya kita serahkan kepada Allah semata

b. tidak ada yang dapat menyamai Allah

c. hendaknya kita berserah diri kepada Allah

d. terdapat dari sebagian doa iftitah yang dibaca dalam salat pada rakaat pertama, ucapan itu adalah penyerahan diri dengan penuh kerendahan serta keridaan Allah atau mengabdi kepadanya tanpa pamrih

e. menyadari dan bersumpah tidak menyekutukan Allah dan mejadi orang yang pertama serta mengutamakan islam sebagai tatanan kehidupan demi mencapai tujuan hidup yakni selamat duni dan akhirat

f. senantiasa melakukan perintah-perintas Allah selama hidup dan meninggalkan larangan-larangannya. Diantara perwujudannya adalah dengan melaksanakan perintah Allah dalam membaca, memahami dan melaksanakan isi kandungan al-quran dalam kehidupan sehari-hari serta menyiarkannya

g. selalu melaksanakan perintah allah dan meninggalkan larangannya

2. Perilaku yang menunjukkan surat al-anam ayat 162-163

semua perbuatan dan amal kita pasrahkan kepada allah swt. Beribadah dengan khusyuk adalahh bukti amalan atau kepasrahan kita kepada allah swt. Syukur dalam bentuk ucapan yaitu senantiasa berdzikir, bertauhid dan bertahlil kepada allah swt, serta ikhlas yang berbentuk perbuatan seperti selalu menjalankan perintah allah dengan semata-mata karena allah swt

3. Q.S Al-Bayyinah 98:5

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ‌ۚ وَذَٲلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ 

Artinya: Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus ( benar )*)

Kandungan dari ayat diatas adalah:

1. Manusia diciptakan hanya untuk menyembah allah swt

2. Manusia diwajibkan mengingat allah swt

3. Menyembah allah dan memurnikan ketaatan kepadanya dan menjauhkan diri dari sifat kemusyrikan

4. Suruhan Allah kepada manusia dalam mengamalkan ajaran agama hendaklah yang lurus yaitu jauh dari hal-hal kemusyrikan dan kesesatan.

5. Dalam beribadah hendaklah dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah yaitu kesadaran diri dalam menjalankannya semata-mata mentaati  perintah Allah dengan  mengharap ridho-Nya.

Ciri-ciri manusia yang bersifat ikhlas, antara lain:

1. Meniatkan amal dan perbuatan semata hanya kepada Allah SWT

2. Salat dengan khusuk adalah bukti amalan kepasrahan kepada Allah SWT

3. Syukur dalam bentuk ucapan, yaitu selalu berzikir, bertahmid, dan bertahlil kepada Allah SWT

4. Senantiasa memperbaiki niat dan amalan sehingga terus berada dalam jalan yang di syariatkan Al-Quran dan Hadits

Ciri-ciri manusia yang tidak bersifat ikhlas, antara lain:

1. Tidak beriman kepada kitab-kitab Allah SWT.

2. Tidak mau mendengarkan ayat ayat Allah SWT.

3. Mendustakan agama, tidak melaksanakan perintah Allah SWT.

4. Tidak mengikuti agama yang lurus .

5. Menyekutukan Allah SWT.

6. Tidak berpuasa, tidak menunaikan zakat, dan tidak pergi haji padahal ia mampu untuk menjalankannya

Pentingnya keikhlasan dalam beribadah dan cara bersifat ikhlas:

a. Keikhlasan dalam beribadah

Keikhlasan dalam beribadah merupakan penegasan kemurnian atas keesaan Allah SWT,dan penolakan terhadap segala bentuk kemusyrikan atau noda syirik sekecil apapun. Keikhlasan dalam beribadah memiliki maknatauhid, yakni pengesaan Allah SWT dalam berbagai aspek kehidupan.

b. Cara melatih diri untuk bersifat ikhlas

Dalam hidup ini sangat dibutuhkan kearifan dalam menerima semua keadaan, dan itu memang tidaklah mudah, kearifan dalam berpikir dan bertindak datangnya dari kebersihan jiwa yang bersumber dari hati. Kadang sering kita dihadapkan pada perlakuan yang tidak adil, baik itu oleh orang tua sendiri, oleh atasan atau juga teman dalam sebuah komunitas. Bahkan ketidakadilan dari penguasa yang berwenang akan lebih terasa.

Tentunya disinilah dibutuhkan sikap dan kearifan dalam menerimanya. Berpikir positif adalah salah satu cara untuk berlapang dada dalam menerima keadaan tersebut, sebaliknya keluh kesah malah akan membuat kita semakin terpuruk dalam perasaan. Bersikap optimis agar keadaan tersebut cepat terkendali, adalah juga merupakan cara untuk menjauhkan diri dari keputus asaan dan rasa frustasi.

Sebagai mahluk sosial yang berintegrasi dan berinteraksi antar sesama dalam sebuah komunitas masyarakat yang majemuk, sering kita terjebak pada ego pribadi, sehingga kita lebih ingin orang lain memahami diri kita ketimbang kita memahami orang lain, kadang juga asyik dengan diri sendiri sehingga tidak peduli dengan keadaan disekitar kita. Hal-hal seperti inilah yang sering menyebabkan kita pada akhirnya bersinggungan antara satu dengan yang lainnya.

Membangun kearifan adalah upaya untuk menumbuhkan sikap bijak dan berjiwa besar, melatih diri dalam kesabaran, juga melatih diri untuk senantiasa bersifat ikhlas dalam menerima keadaan. Tapi semua ini tentunya dibarengi dengan ketaatan dan keyakinan pada Sang Maha Penguasa dan Maha berkehendak. Penyerahan diri dengan ketaqwaan bukanlah sekedar kepasrahan.

Jiwa yang senantiasa ikhlas adalah jiwa yang penuh kekuatan dan tidak mudah rapuh karena keadaan, adalah jiwa yang penuh kearifan dan ketaqwaan. Sangat sadar akan kelemahan dan kekuatannya, selalu melihat kedalam diri dan bercermin pada kebenaran yang di digariskan-Nya.

Read Other

Solusi Bagi Yang Terkena Google Sandbox

By Kpoper Media | At 20:36 | Label : | 0 Comments

Google Sandbox adalah sebuah rangkaian rumus yang logaritma matematika, untuk menyaring blog yang melakukan optimalisasi seo secara berlebihan. Misalnya kamu pernah menulis artikel SEO terbaru kemudian kamu melakukan ping, optimasi blog, mensubmit artikel tersebut ke puluhan sosial bookmark secara berlebihan. Google mengganggap artikel kamu sebagai spam, karena baru beberapa menit artikel di publish, sudah di dongkrak oleh puluhan backlink.

Saran saya cara mengetahuinya adalah sobat blogger bisa mengetik alamat artikel anda di kotak pencarian google.com, jika artikel anda muncul maka tidak terkena hukuman tersebut, sebaliknya jika artikel yang dicari ternyata tidak muncul-muncul juga maka kemungkinan besar terkena hukuman sandbox. Anda juga dapat menggunakan cara lain yang dapat digunakan, tetapi tools ini sering error mungkin karena masih ada bugs-nya yaitu silahkan sobat blogger mengunjungi link berikut dan isi alamat URL dan keyword dari artikel yang ingin sobat cek apakah terkena dampak dari algorithma tersebut atau tidak, Link nya adalah : http://www.searchenginegenie.com/sandbox-checker.htm

Solusi Mengatasi masalah Google Sandbox

  1. Anda harus menulis artikel tentang Google Sandbox
  2. Buatlah text-link / anchor-text yang menuju ke Google.com seperti pada artikel ini,kenapa mesti harus ke google.com dahulu? Ya karena google.com saya artikan secara international, ingat text-link harus dofollow.
  3. Buatlah text-link / anchor-text yang menuju ke Google.co.id ,kenapa mesti harus ke google.com dahulu? Ya karena google.com saya artikan secara international, ingat text-link harus dofollow.
  4. Buatlah text-link yang mengarah ke Wikipedia.Kenapa mesti harus ngasih link juga ke wikipedia.com? ya pada dasarnya wikipedia adalah sarana yang paling banyak mengupas tentang penalty-penalty dari google.
  5. Buatlah text-link yang menuju ke Google Webmaster
  6. Bangun link ke artikel anda dengan perlahan jangan sampai di anggap spam lagi oleh google. Jangan membangun link sekaligus banyak membabi buta dalam satu hari.
  7. Masukkan artikel anda ke social bookmark dan berpagerank tinggi. Ingat juga lebih baik backlink berkualitas daripada backlink banyak tapi tidak berkualitas. Karna backlink berkualitas akan menambah martabat blog anda di mata google.


Lakukan resubmit ke Google.com add url dan resubmit sitemap blog anda dengan mengunjungi google webmaster tools.

sekian Postingan kali semoga bermanfaat bagi kita semua, dan agar kita bisa lebih berhati-hati dengan Google Sandbox.

Read Other

Friday, 29 November 2013

Materi Husnudzan Kepada Sesama Makhluk

By Kpoper Media | At 21:07 | Label : | 0 Comments

A. Huznudzan Terhadap Diri Sendiri dan Sesama Manusia

husnudzan sesama manusia Selain berhusnudzan kepada allah swt. Kita juga harus senantiasa berhusnudzan kepada diri sendiri dan sesama manusia

Adapun husnudzan terhadap diri sendiri dan sesama manusia adalah senantiasa berpikir positif jika ada sikap teman yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Allah menciptakan segala hal secara bepasang-pasangan. Laki-laki dengan perempuan, baik dengan jahat, suudzan dengan husnuzan. Berbicara tentang husnuzan, kata lain dari berbaik sangka, sikap yang harus selalu kita terapkan dalam kehidupan kita. Bukan hanya kepada Allah, kepada diri sendiri pun kita harus berbaik sangka.
Selain kepada Allah dan diri sendiri, kita juga harus berhusnuzan pada sesama manusia. Berhusnuzan itu tidak ada ruginya alias banyak manfaatnya. Sebaliknya bersuudzan mendatangkan rugi besar.
Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan jangan kamu cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Membahas tentang husnuzan terhadap sesama manusia, kita sebagai seorang muslim harus saling berbaik sangka dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat berbangsa dan bernegara. Manfaat dari berhusnuzan kepada keluarga selain mendapatkan ridho Allah, kita juga dapat kebahagiaan dunia akhirat, serta menjaga agar kekeluargaan tetap kokoh dan utuh. Antar tetangga juga harus berprasangka baik dengan cara saling menghormati.
Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya menghormati tetangganya.” (H.R. Muslim). Berbuat baik antar tetangga yang sesuai dengan sabda Rasulullah, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguan.” (H.R. Muslim).
Dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang artinya cakupan dunia sosial semakin luas yang mana kita juga berhusnuzan. Rasulullah bersabda, “Bukan dari golongan kami (umat Islam) orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (H.R. Ahmad, Turmuzi, dan Hakim). Selain itu Allah berfirman dalam potongan surat Al-Maidah ayat 2, ”…. Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. …” Jangan lupa bahwa setiap tindakan yang kita lakukan harus dilandasi karena Allah dan ikhlas.(aid)

B. Hikmah Berhusnudzan Pada Diri Sendiri dan Orang Lain

1. Percaya diri meningkat

2. Jiwa senantiasa ikhlas

3. Hidup tenang, tentram dan damai

4. Tidak menimbulkan perselisihan

Read Other

Materi Husnudzan Kepada Allah SWT

By Kpoper Media | At 21:04 | Label : | 0 Comments

A. Husnudzan Kepada Allah SWT

husnudzan 1. Pengertian Husnudzan

Kata husnudzan mempuyai arti berprasangka baik lawan dari kata husnudzan adalah su’udzan yang artinya berprasangka buruk

2. Husnudzan kepada Allah swt

Husnudzan kepada Allah SWT adalah salah satu dari beberapa macam

keyakinan. Terbagi atas dua golongan, menurut keadaanmanusia yang

mengamalkannya. Yaitu yang bersifat khusus dan bersifat umum. Yang

termasuk khusus adalah golongan ulama, orang-orang yang taat dan

dekat kepada Allah.

Bagi orang yang khusus mengetahui betapa Allah SWT telah melimpahkan

kasih sayang-Nya kepada manusia dan makhluk di alam ini. Mereka telah

merasakan kenikmatan dari sifat Rahman dan Rahimnya Allah SWT ia

melihat semuanya adalah anugerah dari Allah SWT jua, berprasangka

baik (husnudzan) kepada Allah.. Ia tidak berkeluh kesah terhadap apa

saja yang menimpanya, seumpama musibah yang merenggut harta benda dan

nyawa diri dan keluarganya. Ia menerima dengan syukur dan penuh

harapan kepada Allah, bahkan mengharap ridha Allah atas kejadian dan

peristiwa tersebut.

Si hamba yang berhusnudzan kepada Allah melihat bahwa sifat Allah

yang Maha Sempurna adalah bagian dar perlindungan Allah kepada

manusia dan alam semesta. Sifat-sifat itu memberkati alam semesta,

menolong manusia dengan penuh kasih sayang, dan menempatkan manusia

sesuai engan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah Yang Maha Tinggi

lagi Maha Mulia. Allah bersifat pelindung dan Pengasuh alam semesta,

karena Dia adalah Rabbul `Alamin. Allah mengampuni kesalahan dari

perbuatan manusia yang suka merusak ciptaan-Nya, dengan sifat al-

Ghafur-Nya. Allah menyelamatkan manusia dari bencana, karena sifat As-

Salam-Nya.

Allah SWT mengangkat manusia kepada kemuliaan karena Dia bersifat Al-

Aziz. Demikian Allah memberikan kekayaan kepada manusia, karena Allah

Maha Kaya (Al-Gani dan Al-Mughni). Allah yang memberi rizki kepada

manusia, karena Dia bersifat Al-Malikul Mulk, dan sifat-sifat Allah

yang Maha Tinggi, Mulia dan Sempurna.

Husnudzan orang awam kepada Allah SWT, karena mereka telah merasakan

dan menikmati pemberian Allah bagi dirinya dan alam semesta. Maka

timbullah rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada

Allah, dengan diikuti kedekatan dan ketakwaan dalam ibadah dan amal.

Alam telah memberikan manusia beragam kenikmatan, seperti hasil bumi,

air, minyak, bintang ternak, udara yang segar, hdup yang penuh

kesenangan, semuanya ini adalah bagian dari pemberian Allah SWT yang

langsung dirasakan kenikmatannya oleh manusia. Oleh karea itu manusia

patut berbaik sangka kepada Allah, apabila pada suatu waktu alam

menjadi murka seperti terjadi angin kencang yang merobohkan rumah,

dan menggelorakan lautan, atau hujan lebat terus-menerus, lalu

terjadi banjir .

Gunung meletus yang menyengsarakan penduduk, kebakaran yang meratakan

perkampungan dan pedesan. Orang awam yang beriman mengahadapi

peristiwa seperti itu, hendaklah tetap husnudzan kepada Allah. Karena

peristiwa tersebut adaah aibat erbuatan manusia iu sendii manusa

tidak menjaga alam sekitarnya, tidak memelihara anugerah Alla dan

tidak mperhatikan gelagat alam yang ada di sekitarnya.

Berprasangka baik kepada Allah, baik dengan memahami sifat-sifat

Allah yang Maha Suci dan Maha Mulia, atau dengan melihat pemberian

dan anugerah Allah yang luas dan banyak, manusia akan bertambah iman

dan ketaatannya kepada Allah SWT. Tidak berprasangka buruk kepada-

Nya, karena perasaan dan kebiasaan, atau masalah-masalah yang di

hadapinya tidak terpecahkan atau hal-hal khusus yang tidak

terselesaikan oleh manusia.

Pemberian Allah dan nikmat-Nya dalam hidup manusia ini, termasuk

didalamnya, hidayah agama, taufik bagi perjalanan hidupnya yang

menimbulkan ibadah dan amal shaleh.

Demikian juga anugerah yang diterima manusia dari Allah SWT ialah

dengan mejadikan mereka bersaudara, berkasih sayang dan hidup tolong

menolog.Rahmat dan kasih sayang Allah yang melimpah kepada manusia

itu termasuk peraturan dan hukum serta akhlak. Manusia pun dilarang

berprasangka jelek (Su'udzan) kepada sesama manusia dan alam

sekitarnya. Karena apa yang tidak disukai oleh seseorang tidak

selamanya jelek, dan kadang-kadang mendatangkan kebaikan. Allah SWT

mengingatan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 216: "Apa yang kamu

tidak sukai barangkali itu lebih baik untuk kamu, dan apa yang kamu

sukai barangkli jadi jelek bagi kamu...."

Husnudzan kepada Allah dalam melaksanakan amal, tidak lain adalah

dengan cara memperbagus ibadah dan amal saleh. Mengharapkan ampunan

dan maghfirah dari Allah. Lawan husnudzan adalah suudzan

(berprasangka buruk). Maksudnya berprasangka buruk kepada Allah,

bahwasannya Allah itu tidak mendengar doa dan permintaan seorang

hamba, karena si hamba banyak dosanya. Atau merasa banyak dosa,

sehingga enggan dan kuatir meminta ampun kepada Allah, karena takut

dimurkai oleh Allah. Suudzan seperti ini, karena kurangnya

pengetahuan tentang ajaran agama Islam yang benar. Suudzan juga bisa

membawa akibat bagi orang pesimis dan berputus asa kepada rahmat

Allah.. Adakalanya seorang hamba suudzan terhadap Allah, karena ia

merasa telah melaksanakan ibadah dengan baik (salat misalnya), telah

berzikir, telah berdoa kepada Allah, tetapi sampai saat ini, ia belum

menerima pemberian Allah. Ia merasa permohonannya tidak didengar dan

tidak diterima oleh Allah.

Tidak semestinya seorang hamba merasa tidak didengar, tidak diterima,

tidak diberi oleh Allah SWT. Tidak patut seorang hamba berpikir dan

berperasaan seperti itu. Oleh karena apabila diperhatikan, dan

dirasakan oleh setiap orang yang masih diberi napas, dan ia diberi

aktivitas hidup, selalu mendapatkan kenikmatan dan anugerah dari

Allah. Hanya manusia yang tidak mau merasakan pemberian Allah yang

banyak. Ia hanya meminta, dan tidak mau menghitung dan memikirkan apa

yang telah ia terima dari Allah SWT. Orang seperti ini tidak pernah

bersyukur, dan selalu berkekurangan, sehingga ia merasa Allah belum

memberi apa-apa kepadanya. Ia telah kufur nikmat. Oleh karena itu ia

selalu berprasangka buruk kepada Allah (suudzan). Akibat dari sifat

seperti ini, ia bisa mengidap penyakit putus harapan atau kehilangan

kemudi.

Jangan sampai seorang hamba dalam hidupnya tetap dalam keadaan

suudzan kepada Allah SWT. Dalam hadits dari sahabat Jabir, Rasulullah

SAW mengingatkan, "Barangsiapa yang berketetapan hati untuk tetap

husnudzan terhadap Allah SWT laksanakanlah. "Kemudian membaca ayat 23

surat Hannin sajdah yang artinya kurang lebih, "Dan itulah sangka

buruk yang kamu duga tentang Tuhan kamu, (sangka buruk) yang membawa

kamu kepada kebinasaan, dan jadilah kamu menjadi golongan yang sangat

merugi." Telah berkata Abu Talib al-Makky, "Adalah Ibnu Mas'ud orang

yang memelihara hubungan baik hamba dengan Allah, dengan mentaati

Allah azza wa Jalla, itulah perbuatan yang paling baik, artinya ia

telah berprasangka baik. Nabi SAW bersabda, "Telah berfirman Allah

SWT, sesungguhnya saya (Allah) bersama hambaku yang berprasangka,

hamba yang berprasangka baik atau pun yang berprasangka buruk."

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri ra., adalah Rasulullah SAW

sedang sakit. Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Bagaimana kamu

berprasangka kepada Tuhanmu!" Ia menjawab, "Saya berprasangka baik."

Rasulullah SAW bersabda lagi, berprasangkalah kamu kepada-Nya sesuka

kamu. Sesungguhnya Allah SWT bersama dugaan orang mukmin."

Boleh berprasangka kepada Allah, selama prasangka itu prasangka baik.

Prasangka yang paling baik adalah prasangka orang-orang beriman dan

saleh yang hanya berharap kepada Allah SWT belaka. Allah tetap akan

merahmatui dan memberkati orang-orang yang suka berprasangka baik

kepada Allah, baik dengan sifat-sifat Allah atau karena Allah telah

membuktikan pemberian-Nya kepada manusia dan alam ini.

3. Sikap baik kepada allah swt

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, segala sesuatu yang kita alami terkadang membuat kta puas tetapi pada saat yang lainkadang tidak menyenangkan. Apabila yang kita alami bernuansa positif maka hal itu menyenangkan, sebaliknya jika bernuansa negative kadang kita sedih atau kecewa

Manusia wajib berhusnudzan dan dapat mengambil hikmah dibalik peristiwa yang ada karena tidak ada sesuatu yang sia-sia asalkan manusia dapat mengambil hikmah di balik peristiwa yang ada, karena tidak ada sesuatu yang sia-sia asalkan manusia mengambil hikmahnya.

4. Cara mewujudkan husnudzan kepada allah swt

a. Bila kita melakukan sesuatu bersikap optimis, artinya usaha positif yang sedang dilakukannya dengan cara bertawakal terhadap allah swt maka allah akan memberikan pertolongan sehingga berhasil

b. Berdoa kepada allah atas pengampunan dosa-dosanya, artinya seorang muslim yang berbuat salah, tidak berputus asa akan tetapi memohon langsung pengampunan kesalahan kepada allah swt

c. Berserah diri kepada allah swt

d. Tidak berkeluh kesah apalagi berputus asa apabila mendapat musibah, artinya jika telah mendapat musibah maka kita bersikap menyadari bahwa musibah itu merupakan ujian allah swt

e. Menerima dengan ikhlas keputusan allah swt

f. Bertaqwa kepada allah swt

5. Hikmah berhusnudzan kepada allah swt

a. Jiwanya ikhlas, hatinya bersih dan terhindar dari penyakit hati

b. Hidupnya menjadi tenang, tentram dan damai

c. Tidak menimbulkan perselisihan atau perpecahan

d. Menumbuhkan rasa optimis

e. Dapat memacu semangat lebih kreatif

f. Senantiasa bersyukur atas nikmat allah swt sekecil apapun

Read Other

Materi Hukum Taklifi

By Kpoper Media | At 21:01 | Label : | 0 Comments

A. HUKUM TAKLIFI

hukum taklifi Menurut bahasa, hukum taklifi adalah hukum pemberian beban. Menurut istilah, hukum taklifi adalah ketentuan Allah swt. yang menuntut mukalaf (baligh dan berakal sehat) untuk melakukuan atau meninggalkan suatu perbuatan .

Menurut istilah ahli usul fiqih hokum adalah khitob atau perintah allah swt. Yang menuntut mukalaf untuk mengerjakan atau memilih antara mengerjakan atau tidak mengerjakan atau menjadikan sesuatu menjadi sebab, syarat atau penghalang bagi adanya yang lain. menurut istilah ahli usul fiqih berpendapat bahwa hokum terbagi atas 3 bagian yaitu hokum taklifi (hokum pemberian beban), hokum takhriyi dan hukuum wad’i. perbedaan ketiganya terletak pada sudut pandang. Oleh sebab itu ada perbedaan pada istilah-istilah pembagiannya.

Pembagian-pembagian hukum taklifi, hukum Taklifi dibagi menjadi lima macam yaitu wajib, sunnah, haram , makruh ,dan mubah.

1. Wajib (Al-Ijab)

Wajib menurut Syara’ adalah suatu perkara yang diperintahkan oleh syara’ secara keras kepada mukallaf untuk melaksanakannya. Atau menurut definisi lain ialah suatu perbuatan kalau dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan akan mendapat siksa. Wajib dikenali dari lafad atau tanda lain.

Contoh melalui lafadz :

Artinya : Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diajibkan atas orang-orang sebelum kamu.

Lalu wajib dibagi menjadi beberapa macam:

1) Wajib dari segi waktu

a. Wajib Muaqqot

yaitu perkara yang diwajibkan oleh syara’ untuk mengerjakannya dan waktunya sudah ditentukan. Contoh : sholat, puasa romadlon dan lain-lain.

b. Wajib Mutlak

yaitu perkara yang diwajibkan oleh syara’ yang waktunya belum ditentukan. Contoh : haji yang diwajibkan bagi yang mampu dan waktunya ini belum jelas.

2) Wajib dari segi orang yang mengerjakan

a. Wajib ‘aini

yaitu perkara wajib yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap individu yang tidak boleh diwakilkan pada orang lain. Contoh : sholat, puasa

b. Wajib kafai

yaitu wajib yang dibebankan pada sekelompok orang dan kalau sakah seorang adayang mengerjakan gugur kewajiban yang lain. Contoh sholat mayit , amar ma’ruf nahi mungkar dan lainnya.

3) Wajib dari segi kadar tuntutan .

a) Wajib Mukhaddat

yaitu perkara yang sudah ditentukan syara’ bentuk perbuatan yang di wajibkan dan mukallaf dianggap belum melaksanakan kewajiban sebelum melaksanakan seperti apa yang diwajibkan syara’. Contoh sholat, zakat, dan lainnya.

b) Wajib Ghoiru Mukhaddat

yaitu perkara wajib yang tidak ditentukan cara pelaksanaannya dan waktunya , san diwajibkan atas mukallaf tanpa paksaan. Contoh infaq dijalan Alloh ,menolong orang kelaparan, dan lainnya.

4) Wajib juga dibagi menjadi Mua’yan dan Mukhoyar

a. Mua’yan

yaitu kewajiban melakukan sejenis perbuatan tertentu seperti sholat, puasa, dan lainnya. Dan mukallaf belum gugur kewajibannya sebelum melaksanakannya.

b. Mukhoyar

yaitu sebuah kewajiban untuk melakukan beberapa macam perbuatan tertentu dengan memilih salah satu dari yang ditentukan. Contoh melanggar sumpah, maka kafarotnya ialah memberi makan sepuluh orang miskin atau pakaian ataupun juga memerdekakan budak.

2. Sunnah ( An-Nadb)

Sunnah adalah suatu perkara yang perintahkan oleh syara’ kepada mukallaf untuk mengerjakannya dengan perintah yang tidak bigitu keras atau definisi lain yaitu diberi pahala bagi yang mengerjakannya dan tidak disiksa bagi yang meninggalkannya .

Sighatnya mandub dapat diketahui dengan lafadznya seperti kata disunnahkan / dianjurkan atau sighot amar, tapi ditemui dalam nash itu tanda yang menunjukkan perintah itu tidak keras.

Contoh ayat

Artinya : Hai orang – orang beriman, apabila kamu hutang piutang tidak secara tunai hendaklah kamu melunasinya.

Dalam ayat lain diterangkan :

Artinya : Maka tak ada dosa bagi kamu (jika) kamu menulisnya.

Dari lafadz yang kedua diketahui melunasi hutang itu hanya mandub.

Mandub dibagi menjadi tiga bagian:

1.     Sunnah Hadyi yaitu suatu perkara yang disunnahkan sebagai penyempurna perbuatan wajib.Orang yang meninggalkannya tidak dikenai siksa tetapi tercela. contoh adzan, sholat berjamah dan lain – lain.

2.     Sunnah Zaidah yaitu perkara yang disunnahkan untuk mengerjakannya sebagai sifat terpuji bagi mukallaf, karena mengikuti nabi sebagai manusia biasa. seperti makan, minum, tidur dll.

3.     Sunnah Nafal yaitu perkara yang disunnahkan karena sebagai pelengkap perkara wajib. Bagi yang mengerjakannya mendapat pahala dan yang meninggalkannya tidak disiksa / dicela. Contoh sholat sunnat

3. Haram (At-Tahrim)

Haram adalah perkara yang dituntut oleh syara’ untuk tidak mengerjakannya secara keras. Dengan kata lain kalau dikerjakan mendapat aiksa kalau ditinggalkan mendapat pahala. Contoh ayat

Artinya : Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji.

Haram dibagi dua yaitu:

1. Haram asli karena zatnya yaitu perkara yang diharamkan dari asalnya atau asli karena zatnya. Karena dapat merusak/ berbahaya. Contoh zina mencuri dll.

2. Haram ghoiru zat yaitu perkara yang hukum aslinya itu wajib, sunnah, mubah, tapi karena mengerjakannya dibarengi dengan cara atau [perkara haram seingga hukumya haram. Contoh sholat memakai dari baju hasil menggosob dll.

4. Makruh (Al- Karahah)

Makruh adalah perkara yang dituntut syara’ untuk meninggalkannya namun tidak begitu keras. Dengan kata lain perkara yang dilarang melakukan tapi tidak disiksa bagi yang mengerjakan.

Contoh ayat:

Artinya : Hai orang –orang yang beriman jangalah menanya hal-hal yang jika diterangkan kepada kamu niscaya menyusahkan kamu.

Makruh menurut Hanafiah dibagi dua :

1.     Makruh Tahtiman yaitu perkara yang ditetapkan meninggalkannya dengan bersumberkan dalil dhonni. seperti hadist ahad dan qiyas. contoh memakai perhiasan emas dan sutra asli bagi kaum lelaki yang diterangkan dalam hadist ahad dan hukumnya mendapatkan hukuman bagi yang meninggalkannya.

2.     Makruh Tanzih yaitu perkara yang dituntut untuk meninggalkanya dengan tuntutan yang tidak keras. seperti memakan daging keledai ahli / jinak dan meminum susunya hukumnya tidak mendapatkan siksa bagi yang melakukannya.

5. Mubah (Al-Ibahah)

Mubah adalah perkara yang dibebaskan syara’ untuk memilih atau meninggalkannya .

Contoh ayat

Artinya : Dan apabila kamu telah menunaikan ibadah haji maka bolehlah berburu.

Pembagian mubah dibagi menjadi tiga macam :

1. Yang diterangkan syara’ tentang kebolehannya memilih antara memperbuat atau tidak.

2. Tidak diterangkan kebolehannya namun syara’ memberitahukan bahwa syara’ memberikan kelonggaran bagi yang melakukannya.

3.  Tidak diterangkan sama sekali baik boleh mengerjakan atau meninggalkan yang seperti ini kembali ke baroitul asliyah.

Lima macam hukum taklifi yang diterangkan diatas adalah pembagian menurut jumhurul ulama, namun menurut ulama hanafiyah dibagi menjadi tujuh. Tiga perkara yang dituntut ialah: fardlu, wajib, mandub, dan tiga perkara yang dilarang yaitu: haram, makruh tanzih, makruh tahrim, dan bagian yang ketujuh adalah mubah.

Perkara dikatakan fardlu bila dalil yang menunjukkannya dari Al Quran dan sunnah yang mutawatir, seperti sholat. Tapi kalau diterangkan dari nash dhonni seperti hadist ahad qiyas dianamakan wajib seperti bacaan fatihah dalam sholat. Kalau tuntutan tidak keras di namakan mandzub kalau larangannya keras dan dalilnya khot’I seperti Al-Quran dan Sunnah mutawatir dinamakan haram, contoh zina. Kalau dalilnya dzanni dinamakan karohiatuttahrim, kalau tidak keras dinamakn karohiatuttahrim tamzih, dan kalau tidak diterangkan hukumnya dinamakan mubah.

Read Other

Materi Awal Kejadian Manusia

By Kpoper Media | At 20:59 | Label : | 0 Comments

A. Awal Kejadian Manusia Dan Kandungannya

Untitled-1as QS AL- MUKMINUN :12-14
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ1
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ 
Artinya:
12.  Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13.  Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14.  Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Isi Kandungan :

Allah swt menciptakan manusia berasal dari sari pati tanah.hal ini dapat dijelaskan bahwa setiap yang di makan manusia pasti bermuara dari tumbuh-tumbuhan sedangkan kita tahu bahwa mengambil makanan dari unsur- unsur hara yang ada pada tanah. Dengan demikian secara langsung tidak hidup manusia di topang oleh sari pati tanah yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang kemudian oleh allah swt dijadikan tenaga, air mani dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya manusia berasal dari tanah.

Proses penciptaan manusia dimulai dari air mani sampai beberapa minggu menjadi segumpal darah lalu menjadi segumpal daging. Lalu daging itu ada bagian dalamnya yang kemudian dijadikan tulang belulang yang kemudian oleh allah dibungkus dengan daging. Setelah berumur 4 bulan sepuluh hari di dalam rahim, allah swt meniupkan roh, sehingga menjadi manusia. Dan allah menjadikan manusia di dunia ini sebagai makhluk yang sempurna dan dimuliakan. Kewajiban manusia untuk menjaga martabat agar tidak terjatuh ke dalam jurang kehinaan.
Manusia adalah makhluk Allah SWT yang paling mulia diantara semua makhluk.kelebihan manusia dengan makhluk yang lain nya terletak pada jasmani dan rohaninya. salah satu perbedaan terbesar terletak pada akal pikiran manusia.Dengan akal pikiran itu,manusia dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk,antara yang khalal dan haram.Dengan akal pikirannya,manusia akan sadar sebagai hamba Allah SWT yang harus melaksanakan kewajiban menyembah kepada-Nya. Manusia juga harus dapat menjalin hubungan kemasyarakatan. Yang terpenting manusia harus dapat bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang di berikannya.

B. Hakekat Manusia
Menurut Sastraprateja (yang dikutip oleh Ramayulis dalam buku Ilmu Pendidikan Islam), mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang historis. Hakekat manusia sendiri adalah sejarah, hakekat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarah dalam sejarah bangsa manusia.
Kalangan pemikir di abad modern, juga membahas tentang hakekat manusia yang dapat dijumpai. Alexis Carrel ( dikutip oleh Ramayulis dalam buku Ilmu Pendidikan Islam), mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang misterius, karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan perhatiannya yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada di luar dirinya.
Ibn Arabi (dikutip oleh Ramayulis), melukiskan hakekat manusia dengan mengatakan bahwa tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia. Allah SWT membuatnya hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, berbicara, mendengar, melihat dan memutuskan, dn inilah merupakan sifat-sifat rahbaniyah.
Murthada Mutahhari (dikutip oleh Ramayulis), melukiskan gambaran al-Qur’an tentang manusia sebagai berikut : AAl-Qur’an menggambarkan manusia sebagai suatu makhuk pilihan tuhan, sebagai khalifah-Nya di bumi, serta sebagai makhluk yang semi samawi dan semi duniawi yang dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui tuhan, bebas terpercaya, rasa tanggung jawab tehadap terhadap dirinya maupun alam semesta, serta dikaruniai keunggulan untuk menguasai alam semesta, langit dan bumi. Manusia dipusakai kearah kecenderungan kepada kebaikan dan kejahatan. Kemajuan mereka dimulai dengan kelemahan dan ketidakmampuan yang kemudian bergerak kearah kekuatan, tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan mereka, kecuali kalau mereka dekat dengan tuhan dn memngingat-Nya. Kapasitas mereka tidak terbatas, baik kemampuan dalam belajar, maupun dalam menerapkan ilmu. Mereka memiliki keluhuran dan martabat naluriah. Motivasi dan pendorong mereka dalam banyak hal, tidak bersifat keberadaan. Akhirnya mereka dapat secara leluasa memanfaatkan nikmat dan karunia yang dilimpahkan Allah kepada mereka namun pada saat yang sama, mereka menunaikan kewajiban mereka kepada tuhan.
Untuk mengetahui definisi hakekat manusia secara utuh, di antaranya dapat dilihat pengertian manusia dari segi kata yang digunakan

1. Ditinjau dari segi kata (istilah) yang digunakan
Al- Qur’an memperkenalkan tiga kata yang bisa digunakan menunjuk pengertian manusia, yaitu:

a. Al-insan, terbentuk dari kata nasiya yang berarti lupa. Penggunaan kata al insan pada umumnya digunakan menggambarkan pada keistimewaan manusia penyandang predikat khalifah di muka bumi, sekaligus dihubungkan dengan proses penciptaannya. keistimewaan tersebut Karena manusia memiliki potensi dasar, yaitu fitrah, akal dan kalbu. Potensi ini menempatkan manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan tertinggi dibanding makhluk-Nya yang lain.

b. Kata al-Basyar, secara etimologi, al-basyar merupakan bentuk jamak dan kata al-basyarat yang berarti kulit kepala, wajah dan tubuh menjadi tempat tumbuhnya rambut. Pemaknaan manusia dengan al-basyar memberikan pengertian bahwa manusia adalah makhluk biologis serta memiliki sifat-sifat yang ada di dalamnya seperti makan, minum, perlu hiburan, seks, dan lain sebagainya. Kata al-basyar ditunjukkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali nabi dan rasul. Firman Allah SWT yang artinya :
Katakanlah : “sesungguhnya Aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kamu” (QS. 18 : 10)
Penggunaan kata al-basyar mempunyai makna bahwa manusia secara umum mempunyai persamaan dengan ciri pokok dari makhluk Allah lainnya secara umum seperti seperti hewan dan tumbuhan .

c. Kata al-nas, menunjukkan pada hakekatnya manusia sebagai makhluk social. Dan ditujunjukkan kepada seluruh manusia secara umum tanpa melihat statusnya apakah beriaman atau kafir. Selain itu, al-nas juga dipakaikan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa karakteristik manusia senantiasa berada dalam keadaan labil.

C. Kedudukan Manusia
.QS ADZ ZARIYAT :56
Kesatuan wujud manusia antara pisik dan psikis serta didukung oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan al-taqwin dan menempatkan manusia pada posisi yang strategis, yaitu :

1. Manusia Sebagai Hamba Allah
Musya Asy’arie[5] (dikutip oleh Ramayulis) mengatakan bahwa esensi hamba adalah ketaan,ketundukan dan kepatuhan yang kesemuanya itu hanya layak diberikan kepada tuhan. Ketundukan dan ketaatan pada kodrat alamiah yang senantiasa berlaku baginya.
Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Allah SWT berfirman :
Artinya : “maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Allah), tetaplah pada fitrah Allah yang tela menciptakan manusia menurut fitrah (agama) itu tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. 30 :30).
Manusia diciptakan Allah tidak lain kecuali agar menyembah kepada-Nya. Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah dan menghambakan diri kepada Allah yang disebut ibadah mahdlah, dan manusia juga wajib berhubugan dengan sesaman makhluk yang disebut ibadah ghairu mahdlah.
Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tatacara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur sampai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran islam.
ﻭ ﻤﺎ ﺧﻟﻗﺕ ﺍﻟﺟﻦﱠ ﻭ ﺍﻹﻧﺱ ﺍﻻﱠ ﻟﻳﻌﺑﺪﻭﻦ
Artinya : “dan Aku tidak menciptakana jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Zaariyaat : 56).
Dengan memahami surat adz-zariyat, hendaknya manusia dapat mengambil pelajaran bahwa[6] :

- Menyadari bahwa hidup di dunia bukanlah tujuan, melainkan sebagai kesempatan beramal baik untuk menuju hidup bahagia di akhirat kelak.

- Kesempatan hidup hendaknya dimanfaatkan untuk menghambakan diri kepada-Nya dalam seluruh aspek hidupny.

- Kenikmatan berupa kesenangan hidup di dunia jangan sampai melupakan tugas pokok hidup, yakni menghambakan diri kepada Allah semata.

Pengakuan manusia akan adanya tuhan secara naluriah menurut informasi al-Qur’an disebabkan telah terjadinya dialog antara Allah dan roh manusia tat kala ia berada di alam arwah. Firman Allah SWT :
Artinya : “Dan (ingatlah) Ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian mereka terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini tuhanmu?”, mereka anak-anak Adam menjawab : ”Betul (Engkau tuhan kami) kami menjadi saksi….. (QS. 7 : 172).
Dengan demikian, kepercayaan dan ketergantungan manusia dengan tuhannya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri. Pengenalan dan pengabdian yang dilakukan manusia sebagai realisasi kepatuhan kepada tuhannya pada mulanya mereka lakukan sesuai dengan keterbatasan akalnya. Allah tidak ingin manusia berada selalu dalam kesesatan. Untuk itu Allah memperkenalkan manusia tentang dirinya melalui wahyu-Nya. Sehingga manusia dapat melaksanakan pengabdiannya sesuai aturan yang dikehendaki Allah. Allah juga mengutus para Rasul-Ny sebagai pemberi petunjuk kepada manusia mana yang harus mereka sembah sebenarnya. Lewat instingtif pengakuan akan adanya Zat Yang Menguasainya, akal, bimbingan wahyu (ajaran agama) yang disampaikan dengan perantaraan Rasul, manusia diharapkan  mampu mengenal khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukkannya dalam kehidupan.

Read Other

Materi Asmaul Husna

By Kpoper Media | At 20:55 | Label : | 0 Comments

asmaul husna

Setiap nama allah swt pasti mengandung sifatyang berkaitan dengan nama dan keluhuran allah swt. Melalui wahyu-nya yang disampaikan oleh para rasul, allah swt memberikan pada makhluknya tentang nama-namanya. Nama-nama allah disebut dalam alquran dengan dengan al-asma’ al-husna atau asmaul husna yang artinya nama-nama yang baik. Asmaul husna berjumlah 99.

Ke-99 nama allah swt. Di sebutkan dalam hadits. Sebuah hadits dari abu hurairah yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim, menyebutkan “allah swt mempunyai Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu”. Siapa saja yang menghafal nama-nama itu tentu masuk surga. Dia adalah esa, senang kepada yang “tunggal atau ganjl”. Sedangkan allah memberikan informasi tentang asmaul husna dalam al-quran surat al-a’raf ayat 180.

Abu bakar bin arabi, setelah menghitung dan meneliti ayat-ayat alquran dan hadits-hadits nabi Muhammad saw. Berhasil menghimpun 1000 nama allah swt. Berikut juga dengan ulama lainnya menyebutkan tidak hanya 99 nama. Nama-nama allah swt yang banyak tersebut di mungkinkan oleh karena di antara ulama ada yang membagi nama-nama tersebut pada yang hakiki (sebenarnya) dan majasi (metafora).

B. 99 Nama Allah SWT yang baik

Allah swt mempunyai nama-nama yang baik dan nama-nama yang melekat pada sifat-sifat allah khususnya bagi orang-orang yang beriman. Berikut ini adalah ke-99 nama allah swt.

1. (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah

2. (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

3. (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Merajai

4. (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci

5. (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat

6. (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan

7. (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Memelihara / Mengawasi

8. (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa / Ynag Dapat Mengalahkan

9. (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Perkasa / Menundukkan Segalanya

10. (Al Mutakabbir) Artinya Yang Mempunyai kebesaran.

11. (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta

12. (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan / Melepaskan

13. (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk

14. (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun

15. (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Memaksa

16. (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah / Pengkarunia

17. (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki

18. (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka

19. (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui

20. (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang / Menyempitkan Rezeki

21. (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat / Melapangkan Rizki

22. (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Merendahkan Derajat

23. (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi / Meninggikan Derajat

24. (Al Mu’izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan

25. (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina

26. (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar

27. (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat

28. (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili / Menetapkan Hukum

29. (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil

30. (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut/Halus

31. (Al Khabir) Artinya Yang Maha Waspada

32. (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar

33. (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung

34. (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun

35. (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur / Berterima Kasih

36. (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi

37. (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar

38. (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara

39. (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga / Memberikan Makan

40. (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung

41. (Al Jalil) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran

42. (Al Karim) Artinya Yang Maha Mulia

43. (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada / Mengawasi

44. (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul

45. (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas

46. (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana

47. (Al Wadud) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

48. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

49. (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula

50. (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan

51. (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar

52. (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentabir / Mengurusi

53. (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat

54. (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh / Kokoh

55. (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi

56. (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji

57. (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung

58. (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal / Memulai

59. (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembalikan

60. (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan

61. (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan

62. (Al Hayyu) Artinya Yang Maha Hidup

63. (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri

64. (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu

65. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

66. (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa

67. (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal

68. (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan

69. (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya

70. (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa

71. (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Mendahului

72. (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Mengakhiri / Penangguh

73. (Al Awwal) Artinya Yang Pertama

74. (Al Akhir) Artinya Yang Akhir

75. (Az Zahir) Artinya Yang Zahir

76. (Al Batin) Artinya Yang Batin / Tak Kelihatan Dzatnya

77. (Al Wali) Artinya Yang Memerintah / Menguasai

78. (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia

79. (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan / Kebaikan

80. (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat

81. (Al Muntaqim) Artinya Yang Maha Memberi Hukuman / Siksaan

82. (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun

83. (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang

84. (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal / Memiliki Kerajaan

85. (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan

86. (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Adil

87. (Al Jami) Artinya Yang Maha Mengumpulkan

88. (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya

89. (Al Mughni) Artinya Yang Maha Memberi Kekayaan

90. (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah / Mempertahankan

91. (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat / Bahaya

92. (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat

93. (Al Nur) Artinya Memberi Cahaya

94. (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk

95. (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya

96. (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal

97. (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi

98. (Ar Rasyid) Artinya Yang Maha Pandai

99. (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar

C. Tanda-tanda Penghayatan terhadap Asmaul Husna

Asmaul husna sangat besar pengaruhnya bagi jiwa seorang muslim yang bisa mengamalkan oleh sebab itu dalam setiap doa yang dilakukan dianjurkan menggunakan lafal-lafal dalam “asmaul husna” dengan menyebut nama-nama allah yang mulia sesuai dengan sifat-sifatnya

Ketika berdoa bukan hanya sekedar menghafal kata-katanya saja akan tetapi secara bertahap dan berkesinambungan mencoba meresapi serta menghayati makna yang terkandung dalam asmaul husna, sehingga doa yang di panjatkan kehadapan allah, benar-benar dilakukan dengan khusus kesungguhan dan penuh konsentrasi serta rasa ketundukan terhadapnya

Read Other

Thursday, 28 November 2013

Membangkitkan Semangat Wirausaha (Kewirausahaan)

By Kpoper Media | At 16:50 | Label : | 1 Comments

A. Membangkitkan Semangat Wirausaha

index Sebagian besar wirausahawan yang berhasil pernah juga mengalami kegagalan, namun orang yang berjiwa wirausaha tentunya tidak patah semangat dengan terjadinya kegagalan dalm usahanya. Suatu kegagalan merupakan plajaran dalam proses usaha, sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang sama pada usaha berikutnya. Orang yang berjiwa wirausaha tidak berlama-lama terpuruk pada saat gagal namun segera bangkit untuk menyusun usaha kembali.

Pada umumnya wirausahawan yang berhasil, memenuhi persyaratan sebagai seorang wirausaha, prsyaratan sebagai wirausaha adalah sebagai berikut:

1. Mempunyai keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri

2. Mempunyai keyakinan terhadap pekerjaan yang sedang digeluti

3. Mempunyai keyakinan yang positif kearah kemajuan usaha

4. Ada kemauan yang keras dan ulet untuk berusaha

5. Berjuang tanpa mengenal lelah dan putus asa

6. Berani memikul sagala risiko usaha

7. Menjauhi proses berpikir negative

8. Pandai bernegosiasi dan komunikasi usaha

Beberapa syarat yang harus di penuhi agar kita mempunyai semangat wirausaha dan berhasil dalam perjuangan usahanya, antara lain sebagai berikut:

1. Memilki Kepribadian Unggul, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

a. Mampu merumuskan tujuan hidup

b. Mampu merumuskan tujuan usaha

c. Mampu menempatkan waktu,kesempatan serta dapat melaksanakannya

d. Berdaya pikir positif untuk maju

2. Mengenal Diri sendiri, yaitu memiliki kemampuan antara lain sebagai berikut:

a. Mengetahui kesempatan,kecakapan dan kemampuan dalam usaha

b. Dapat menilai,menghargai dan memanfaatkan modal yang dimiliki

c. Dapat memanfaatkan kekayaan dan kekuatan yang dimiliki

d. Dapat memilih dan menentukan kegiatan sesuai kemampuan dirinya

3. Mengetahui dan memperhatikan hal-hal, antara lain sebagai berikut:

a. Segala risiko yang akan terjadi dalam usaha

b. Hambatan-hambatan yang terjadi dalam usaha

c. Prospek kemajuan dan keberhasilan dalam dunia usaha

4. Memiliki kekayaan, meliputi sebagai berikut:

a. Mental yang kuat

b. Spiritual yang tinggi

c. Fisik yang sehat

d. akal yang kuat

5. Kemauan untuk belajar, maksudnya sebagai berikut:

a. Belajar terus

b. Belajar keras

6. Mempunyai keahlian khusus

a. Spesialisasi dan keahlian dari hasil belajar

b. Pengalaman dari bekerja

c. Keahlian dalam manajemen usaha

Beberapa saran agar wirausahawan dapat menumbuhkan semangat wirausaha, antara lain sebagai berikut.

1. Sebelum melangkah lebih jauh dalam wirausaha coba tumbuhkan citra positif pada diri sendiri

2. Tetap optimis dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun yang akan terjadi dalam duia bisnis

3. Jangan berpikir negative apalagi putus asa dalam berusaha

4. Lihat kemungkinan dan jangan lihat keadaan

5. Menyadari dan mensyukuri rahmat yang diberikan oleh Tuhan

Sikap mental positif yang harus dimiliki para wirausahawan dalam hidup atau pun usaha diantaranya sebagai berikut:

1. Hilangkan beban mental dengan mengambil tindakan secepat mungkin

2. Percaya pada diri sendiri dan pasti berhasil

3. Gunakan pikiran secara produktif

4. Pilihlah saran-saran positif dalam bekerja

5. Ingat lingkungan sangat mempengaruhi prestasi kita

6. Jangan takut meninggalkan ide, jika tidak menghasilkan yang benar

7. Harus jeli dan produktif terhadap peluang bisnis yang menguntungkan

8. Bergaul dengan orang-orang yang sukses dalam wirausaha

Keberhasilan dalam mengembangkan semangat kerja wirausaha ditentukan oleh :

1. Kemampuan merumuskan tujuan usaha

2. Pemahaman tentang hakikat dan makna berwirausaha

3. Sikap dan kemauan serta tindakan-tindakannya

4. Keberanian untuk mengambil inisiatif dan inovatif

5. Kecakapan dalam mengelola usahanya

6. Kreativitas dan percaya diri

7. Pengalaman dan pendidikan

Read Other

Pemecahan Masalah Berdasar Analisis Swot

By Kpoper Media | At 16:47 | Label : | 0 Comments

A. MASALAH KEPUTUSAN BERDASARKAN ANALISIS SWOT

Pemecahan masalah keputusan usaha dapat dianalisis menggunakan analisis SWOT.

images S = Strenght, artinya kekuatan usaha.

W= weaknes, artinya kelemahan usaha

O = opportunity, artinya peluang Usaha

T = threat, artinya ancaman usaha.

Berdasarkan analisis SWOT yg menjadi pemicu, serta pelaksanaan pemecahan masalah keputusan usaha atau bisnis, yaitu :

1. Adanya relasi-relasi usaha dengan orang lain.

2. Adanya tim yg dpt diajak kerja sama dalam berwirausaha.

3. Adanya dorongan dari keluarga untuk berwirausaha.

4. Adanya pengalaman didalam dunia usaha sebelumnya.

5. Adanya kesiapan mental di dalam membuat keputusan usaha.

6. Adanya manajer pelaksana perusahaan sebagai tangan kanan wirausaha.

7. Adanya komitmen tinggi terhadap pembuatan masalah keputusan di dalam usaha.

8. Adanya misi dan visi perusahaan guna mencapai keberhasilan di dalam usaha.

Pemecahan masalah Keputusan usaha harus didahului oleh analisi SWOT untuk mengenal tingkat kesiapan seluruh fungsi perusahaan yg diperlukan untuk mencapai sasaran yg telah ditetapkan.

Read Other

Kemampuan Mengambil Risiko Usaha

By Kpoper Media | At 16:41 | Label : | 1 Comments

B. KEMAMPUAN MENGAMBIL RISIKO USAHA.

Para wirausaha mendapat kepuasan dlm melaksanakan tugas yg sukar dan penuh rintangan.

risiko Pengambilan resiko usaha merupakan hal yang hakiki dan wajar dalam merealisasi potensi sendiri sebagai wirausaha. Pengambilan resiko dalam hidup melibatkan suatu kesadaran akan peristiwa-peristiwa yg akan terjadi, perhatian utk masa depan, dan keinginan hidup masa sekarang. Sebagai seorang wirausaha harus sadar akan pertumbuhan usaha pada masa yang akan datang ditentukan oleh adanya keuntungan peluang usaha masa sekarang dan pengambilan risiko untuk mencapai tujuan bisnis.

Jika wirausahawan tdk bersedia mengambil risiko, maka mereka tdk akan pernah dpt mewujudkan bakat berwirausaha dan semangat jiwa kewirausahaan. Apabila suatu keadaan risikonya sudah jelas ada, maka keputusan untuk mengambil risiko sangatlah penting.

Adapun kemampuan didalam memperkecil suatu risiko usaha ditingkatkan oleh :

1. Keyakinan pada diri sendiri untuk sukses.

2. Kemampuan menghadapi situasi risiko menurut tujuan usaha atau bisnis.

3. Kemampuan untuk menilai risiko secara realistis.

4. Kesediaan untuk mengubah keadaan demi keuntungan usaha atau bisnis.

pengambilan dan kemampuan memperkecil risiko usaha itu adalah perilaku dengan penuh perhitungan dan merupakan suatu keterampilan seorang wirausaha yang dapat ditingkatkan dan dikembangkan.

ada beberapa evaluasi bagi para wirausaha sebelum mengambil keputusan yang mengandung resiko usaha :

1. Apakah risiko itu sepadan dengan hasil usaha atau bisnisnya.?

2. Mengapa Risiko usaha atau bisnisnya itu sangat penting bagi seorang wirausaha.?

3. Apakah Risiko Itu dapat dikurangi atau dihilangkan.?

4. Informasi usaha atau bisnis apa yang diperlukan seorang wirausaha sebelum pengambilan risiko.?

5. Persiapan2 apa saja yang diperlukan sebelum wirausaha mengambil risiko.?

6. Orang-orang dan sumber daya manakah yang dapat membantu mengurangi risiko dan untuk mencapai tujuan usaha atau bisnis.?

7. Apakah ada rasa takut di dalam mengambil risiko usaha.?

8. apakah wirausaha itu bersedia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan usaha atau bisnisnya.?

9. apa yang akan dapat dicapai oleh seorang wirausaha di dalam mengambil risiko itu.?

Faktor evaluasi yang paling penting dlm mengambil dan memperkecil risiko usaha atau bisnis, yaitu dengan adanya kesediaan menerima tanggungjawab pribadi atas akibat keputusannya, baik yang menguntungkan ataupun yang tidak.

Read Other

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2016. Educational Top Studies Files - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz